Monthly Archives: Agustus 2011

INDONESIA DAN SYARIAH

Pada awal- awal kemerdekaan, Soekarno pernah mencetuskan bahwa Indonesia menganut sistem ekonomi koperasi. Sistem ini juga dimotori oleh Moh. Hatta yang kemudian menjadi bapak koperasi Indonesia. Secara normatif, landasan sistem ekonomi Indonesia adalah Pancasila. Hal ini dituangkan ke dalam pasal 33 UUD 45. Pada UUD 45 pasal 3 ayat 1 tertulis “perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.” Ini menunjukkan sang sistem ekonomi koperasi berperan di UUD 45. Namun jika melihat UUD 45 pasal 33 ayat 2: cabang- cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Ini mengarah kepada sistem ekonomi sosialis, dimana kegiatan ekonomi dikuasai oleh pemerintah pusat. Dan jika melihat kondisi Indonesia sekarang, dimana sudah banyak investor- investor lokal maupun asing yang berkontribusi dalam perekonomian negara Indonesia, ini mengarah pada sistem ekonomi kapitalis. Belum lagi sempat beredar rumor neo-liberalisme yang sempat membuat pemerintah kebakaran jenggot dan langsung membantahnya. Jadi sebenarnya sistem ekonomi mana yang dianut oleh negara kita?

Memang secara teori global, sistem ekonomi ada 3 macam, yaitu: kapitalis, sosialis, dan campuran. Beberapa ahli ekonomi mengatakan bahwa sistem ekonomi yang kita anut adalah campuran. Pada dasarnya, sistem ekonomi campuran merupakan bentuk gabungan dari 2 sistem ekonomi: kapitalis dan sosialis. Tapi jika kembali melihat kondisi perekonomian Indonesia seperti yang sudah dibahas diatas, mungkin lebih tepat jika dikatakan “sistem campur aduk” karena lebih dari sekedar campuran kapitalis dan sosialis, ada juga sistem koperasi. Dan ditambah yang baru muncul adalah sistem syariah.

Ekonomi syariah dikenal oleh masyarakat Indonesia baru pada tahun 1990. Mungkin agak ironis melihat sebagian besar penduduk Indonesia berkepercayaan pada asal- mulanya sistem ekonomi syariah. Syariah berasal dari ajaran umat Islam yang tertulis didalam Al-Quran. Di dalam surat Al Baqarah ayat 275 dijelaskan bahwa haram bagi orang- orang yang mengambil riba (lebih) dari pinjaman atau pertukaran barang sejenis. Ini yang menjadi dasar dari Syariah. Bisa ditafsirkan sistem ekonomi syariah adalah sistem ekonomi yang mengatur keseimbangan setiap pelaku kegiatan ekonomi. Tidak ada pihak yang sangat berkuasa, dan tidak ada pihak yang sangat dipengaruhi. Syariah memiliki 4 pilar yang menopang sistemnya: kesatuan, keseimbangan, kebebasan, tanggung jawab. Ciri yang sangat unik dari syariah adalah sistem bagi hasil. Sistem ekonomi konvensional sangat identik dengan sistem bunga sebagai instrumen keuntungannya, sedangkan syariah sangat mengedepankan sistem bagi hasil sebagai instrumen keuntungannya. Dengan begitu sistem syariah menjaga kestabilan kekayaan. Tidak ada yang terlalu miskin dan juga tidak ada yang terlalu kaya. Hal ini menopang keselarasan kehidupan manusia.

Melihat sistemnya syariah, mungkin muncul dibenak: koperasi. Ya memang bisa dikatakan sistem koperasi hampir sama dengan syariah. Mungkin pada awal kemerdekaan Bung Karno dan Bung Hatta sudah melihat bahwa sistem syariah sangat memiliki potensial yang bagus dalam membangun negara bekas jajahan bangsa Eropa yang sangat tidak mengenal sistem kekeluargaan. Namun karena yang dibangun adalah negara persatuan dimana warga negaranya tidak berkeyakinan pada satu kepercayaan dan juga memiliki kebudayaan yang beragam, mungkin agar tetap bisa diterima oleh masyarakat, Bung Karno dan Bung Hatta mencoba menyesuaikan syariah dengan kondisi tersebut, dan dinamakan sebagai sistem ekonomi koperasi.

Tidak bisa dipungkiri bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia masih tinggi dan tingkat pengangguran juga masih tinggi. Ya kata-kata “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin” mungkin sudah biasa terdengar. Sistem kapitalis, sistem sosialis, sistem koperasi, sistem syariah, mungkin menggabungkannya menjadi ekonomi campur aduk adalah keyakinan pemerintah sebagai solusi. Solusi? Atau ingin cari aman? Karena pada kenyatanya kalimat “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin” makin terdengar. Mengapa pemerintah tidak meneruskan fokus pada sistem ekonomi koperasi yang sudah dirumuskan pada masa Soekarno-Hatta demi pembangunan Indonesia? “perkembangan zaman” kerap kali menjadi jawaban dari pertanyaan tersebut. Dapat dilihat perkembangan zaman sudah dapat membawa syariah kepada masyarakat dunia terutama kepada masyarakat Indonesia sendiri, seperti bank – bank konvensional sudah banyak yang mendirikan anak cabang yang berbasis syariah, dan banyak badan-badan usaha yang juga sudah menganut asas syariah. Syariah sebenarnya sudah dapat dikuliti dari koperasi untuk masyarakat Indonesia. Dan seharusnya dapat menjadi solusi untuk ekonomi yang lebih baik yang dapat menjaga keselerasan sosial di Indonesia.

Bandung, 18 Agustus 2011

Muhammad Pittrawan Saputra

Iklan

Nama Nama Nama

Awal dari sebuah perkenalan adalah penyampaian sebuah nama. Namun apalah arti sebuah nama. Ya, kita sering kali mendengar sajak kuno “apalah arti sebuah nama”. Mengapa ‘orang-dulu’ sering menggunakan sajak tersebut? Menurut saya itu karena mereka hidup di zaman saat belum tersedianya wikipedia! Mereka sangat bingung mengartikan kata ‘nama’, harus mencari tahu kemana? Akibat putus asa mereka mungkin mengucapkan “apalah arti sebuah nama” dengan maksud: susah-susah amat cari arti nama, engga penting juga. Beruntung sekarang kita hidup di zaman modern, jika penasaran dengan arti ‘nama’ tinggal cari di google saja, klik, beres.
Kalau kata Wikipedia: Nama adalah sebutan atau label yang diberikan kepada benda, manusia, tempat, produk (misalnya merek produk) dan bahkan gagasan atau konsep, yang biasanya digunakan untuk membedakan satu sama lain. Nama dapat dipakai untuk mengenali sekelompok atau hanya sebuah benda dalam konteks yang unik mapun yang diberikan.
Betul kata orang zaman dulu, tidak penting. Karena menurut saya yang terpenting adalah bukan arti kata ‘nama’ melainkan nama yang diberikan itu yang harus dicari tahu arti atau maknanya. (saya juga tahu maksud sebenarnya “apalah arti sebuah nama”, saya cuma ingin melesetkan sedikit, memberi paradigma baru tentang sajak itu).

Nama, dalam konteks nama untuk manusia, biasanya terdiri dari nama depan, nama tengah, dan nama belakang. Nama tengah biasanya untuk nama panggilan, atau bahkan julukan. Nama belakang untuk nama marga biasanya. Rangkaian kata-kata tersebut bersatu menjadi nama lengkap. Nama lengkap biasanya untuk KTP. Apapun maksudnya, inti dari sebuah nama diberikan kepada seseorang adalah untuk sarana identifikasi. Kemudian karena value manusia sangat tinggi, pemberian nama pun sangat di perhatikan. Makna-makana terbaik hasil seleksi mengisi rangkaian kata-kata nama.

Muhammad Pittrawan Saputra Munir, begitu tertulis di Akta kelahiran saya, di sebelah kata ‘nama:’. Benar, ada nama depan, tengah, dan belakang. Cuma, apa itu ada satu kata lagi? Kalo kata Ayah saya yang terakhir itu nama keluarga. Benar juga, mengingat Ayah saya namanya Raizal Munir. Loh, Ayah saya tidak ada nama tengahnya? Katanya sih biar kalau mengisi formulir bisa cepat. Jadi nama tengah saya itu sebenarnya “Pittrawan Saputra”. Diberikan oleh ibu saya. “Pittrawan” itu kalau tidak salah maksudnya gabungan dari Pittsburgh-putra-one karena saya anak pertama yang ternyata laki-laki dan lahir di kota Pittsburgh, USA. Dan “Saputra” mungkin sama artinya sama “saputra”-nya si Nicholas. Kemudian di tambahkan oleh Ayah saya “Muhammad” didepan sebagai panutan maksudnya dan “Munir” sebagai nama keluarga. Awalnya saya menanggapi pemberian makna nama tersebut biasa saja. Namun setelah tahu bahwa di twitter hanya ada 3 dari seluruh dunia yang bernama Pittra (nama panggilan saya), Saya menyadari bahwa “Pittra” adalah hal ter-kreatif yang pernah orang tua saya ciptakan.

Oleh karena nama saya diberikan orang tua saya untuk saya seorang dan tidak ada ‘copyright’ saya akhirnya memaknai sendiri kata “Pittra” yang saya miliki. Saya menjadikan kata tersebut sebagai gabungan dari nilai-nilai yang perlu saya junjung tinggi dalam hidup saya.
P untuk panutan sebagai manusia biasa saya perlu memiliki seorang panutan sebagai kiblat prilaku yang semestinya dilakukan dalam suatu situasi. Memang saya kaitkan dengan kata pertama “Muhammad” sebagai panutan utama saya. Dan saya harus menjadi seorang panutan bagi orang lain.
I untuk inspirasi karena saya butuh banyak inspirasi dalam setiap menciptakan sesuatu. Dan saya harus bisa menciptakan inspirasi untuk orang lain.
T pertama untuk Tuhan menurut saya nilai-nilai Ketuhanan perlu ditanamkan. Dalam hal ini terkait dengan keyakinan yang akan membimbing intelenjensi spiritual seorang manusia.
T kedua untuk tantangan hal ini adalah hal paling sulit diterima namun menurut saya tantangan sangat berperan sebagai penguji kemampuan.
R untuk Relasi tentu saja sebagai makhluk sosial, manusia itu saling membutuhkan satu sama lain. Namun tidak semudah itu, mengelola hubungan antar manusia menurut saya sangat penting karena akan berpengaruh terhadap pola hidup.
A untuk akal terkait dengan kecerdasan untuk mengatasi segala masalah dalam situasi apapun. Karena akal dari seorang manusia, banyak perubahan yang tercipta untuk kehidupan dunia yang lebih baik.

Kembali kepada sajak “apalah arti sebuah nama” yang mungkin salah satu maknanya adalah tidaklah penting nama seseorang, yang penting adalah perbuatan orang tersebut. Saya tidak setuju. Enak aja arti nama dibilang tidak penting. Untuk apa orang tua mencarikan nama susah-susah kalau ternyata dibilang tidak penting? Seharusnya arti nama itu menjadi sebuah acuan dalam hidup yang akan mengarahkan perbuatan seseorang.

Bandung 17 Agustus 2011

Muhammad Pittrawan Saputra