A Day On The Earth

Suatu hari, seorang pria berambut panjang lurus sebahu duduk disebuah kursi di tengah-tengah padang rumput yang luas dan hijau. Dia mengambil sesuatu berbentuk lintingan dari balik jas putihnya. Kemudian mengambil pematik api dari saku celana putihnya. Dia nyalakan api dilintingan tersebut sembari menghisapnya. Hisapan pertamanya, kemudian ia hembuskan asap pertama dari hidung. Dia menengok keatas. Dari balik kacamata bening berbentuk bundar ia tidak bisa membedakan lagi mana asap yang ia keluarkan dari mulut dan awan. Semua berwarna kekuningan. Samar-samar terdengar “John..John..John!” Pria itu langsung melihat kesamping. Dia melihat Elizabeth. John beranjak dari kursi da mendekati wanita bergaun putih itu. “I am your queen, obey me, find the apple in the place where Muhammad hiding from his enemy.”. John hanya bisa bengong dan bahkan sebelum dia mengedipkan mata, sosok wanita itu sudah tiada.

Dengan pikiran yang masih bingung John memalingkan badan kearah kursi tadi. Namun alangkah terkejutnya John, kursi itu menghilang. Yang ada malah seorang pria dengan rambut yang hampir sama dengan John. “I know you, you are the scientist!” Kemudian Isaac newton tersenyum dan menunjuk ke arah gua “The one that felt, is in that cave.” John mendengar Newton mengucapkan itu malah semakin bingung dan segera bertanya “what do y..” kemudian Newton memotong “Even Jesus Christ cannot help you, He just a body now. I know it, you know it.” (Bahkan Jesus Christ tidak bisa menolongmu, Dia sekarang hanya sebuah raga. Aku tahu itu, dan kau juga.) Tanpa berpikir John lari kedalam gua tersebut.

Setelah berjalan sejauh 1km dari mulut gua, dia melihat patung Budda di atas tempat bertapa. Disamping Patung emas itu juga terdapat patung yang ukurannya lebih kecil. Patung Confucius sedang menerima pemberian dari Budda berupa lukisan. Lukisan tersebut seperti menggambarkan sekelompok orang seolah-olah sedang senam dan di gambar paling depan terdapat gambar Saint Paul saat pengelihatannya kembali karena Ananias of Damascus. Ketika John mendekati lukisan tersebut, John tersadar bahwa dibalik lukisan itu ada selembar kertas kuno (masih seperti kulit kayu yang di rendam). Dalam kertas itu ada ukiran kuas, mengisahkan tentang Cai Lun yang menggenakan baju terindahnya setelah dia mandi bersih, kemudian menenggak racun. Di akhir lembar kertas itu terdapat tanda yang sepertinya di cetak dengan logam. Tanda itu berbentuk kotak-kotak seperti bendera balapan yang dibawahnya tertulis nama Johannes Gutenberg.

Selesai mengamati kertas tersebut, John berbalik badan. Tepat jarak 1 meter dari tempat john berdiri ada sesosok pria dengan tubuh tegap gagah. “I found that Island for my queen. Yes, I am Christopher Colombus. Sea is my side dishes, what do you need to know?”(aku menemukan pulau itu untuk ratuku. Ya sayalah Christoper Colombus. Laut adalah cemilan bagiku, apa yang kau ingin ketahui?) John terkejut dan spontan bertanya “how could I found the apple in this cave? The only thing I found is those stat..”(bagaimana caranya aku menemukan apel dalam gua ini, yang ku temukan hanya patu..) John berhenti berucap seraya melihat patung-patung tadi sudah tidak ada, berganti sesosok bapak tua yang berambut acak. “you can ask your elder, Albert Einstein.” Colombus sambil tersenyum dan menunjuk kearah pria tua diseberang John.

Belum sempat John bertanya, Pria tua itu berbicara “You know, I was Pasteur Louis fellow, I know he hates Galileo Galilei. Galileo Galilei was doubled, and the smartest is the fake one. He wrote about Aristoteles and Euclid saying that their geometric of timebelt can built the Moses wound as a furniture that can float in the air. But my fellow Charles Darwin denied it. Charles Darwin said that the ‘nambel’ (number, because his failed-tongue-evolution) can explain the evolution from moses wound.” Setelah mendengar kata terakhir tersebut dari einstein, gua tersebut berguncang. Karena panik, John lalu lari ke arah cahaya yang bukan dari tempat john masuk gua.

Ketika keluar dari gua, John mendengar ada suara seruan dari banyak orang. Kemudian John melihat kesebelah kiri. John melihat ada bejubel pasukan dengan jubah perang dan menyerukan “Shih Huang Ti!” kemudian John melihat kesisi kanan. Segerombolan pasukan yang juga siap berperang mengibarkan bendera dengan lebel “August Caesar.” Tak lama kemudian kedua pasukan tersebut saling menyerang. Sebelum kedua pasukan tersebut bentrok, John bergegas untuk kabur. Begitu John melangkahkan kakinya kearah menjauh dari medan perang, John menubruk sesosok pria tegap, dan John pun terjatuh. “there’s no where to run, kid”. John yang masih terlentang, hanya bertumpu pada siku kanannya bertanya “who are you?” Lalu pria itu menjawab “You cannot run, because the earth is like some-ball, it is round, you will run back to the place you are belong, I know it because I am Nicolas Copernicus. You must finish what you’ve start. Finish that war.” John mengangkat dirinya dan menatap Copernicus tajam. Kemudian John lari kearah peperangan sambil berteriak “stooooop!”

Ketika semua pasukan berhenti, John menatap tajam ke setiap mata prajurit. “Imagine there’s no countries, It isn’t hard to do, Nothing to kill or die for, And no religion too, Imagine all the people living life in peace.” John berseru ditengah heningnya medan perang. Kemudian dari tengah-tengah medan perang berpasir ada sesosok pria tua tergeletak lemah. John melihat dengan iba ke sosok pria tua tersebut. John langsung menghampiri pria tersebut dan berlutut disampingnya. Ketika John menopang kepala Pria tersebut, Pria tua itu dengan terbata-bata mengucapkan “I am Laurent de Lavoisier of France. I am losing the Oxygen. I am Laurent de Lavoisier that ordered to give you dapul”. John sangat bingung dengan kata terakhirnya “what?” Kemudian Lavoisier berusaha mengubah logat perancisnya “dapul.. da apul.. de apeul.. the apple” sambil mengeluarkan apel hijau dari balik jubahnya yang. John mengambil apel tersebut dan seketika Lavoisier menghembuskan nafas terakhirnya.

John berdiri dan melihat ke apel tersebut. Kemudian John melihat sekeliling. Kosong. Hening. John tidak tahu harus melakukan apa terhadap apel tersebut. Kemudian dia berpikir “may be this apple can improve my live. I think I should eat it.” Kemudian langsung John menggigit apel tersebut. Ketika gigitan apel pertama ditelan, seketika muncul sosok sang ratu dari kejauhan berjalan mendekat dengan penuh cahaya. Semakin jelas mukanya tersenyum kepada John dibalik silau cahaya. Semakin dekat. Seketika senyuman itu berubah menjadi senyuman dingin dan keluar seringaian dari mulut ganas itu. Dan sosok tersebut berubah menjadi sosok Joko Ono. Seketika, John sadar “I am eating Adam’s Apple.” Cahaya dari tubuh Joko langsung berpijar makin silau. John tidak bisa melihat apapun selain putih silau cahaya itu.

Kemudian putih itu memudar. Samar-samar terlihat awan yang cerah. John kemudian melihat sekeliling. John menyadari dia masih terduduk di kursi di tengah-tengah padang rumput hijau yang luas. Kemudian dia meliat ke tangan kanannya. John melihat lintingan tadi sudah habis. Kemudian John merasakan dingin. Dan seketika dia menyadari sesuatu dan berkata “I am John and I am gone.”

Hanya sebuah kisah hayalan, tanpa maksud intimidasi kelompok atau personal tertentu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: