Gagasan Dari Budi Rahardjo

Suatu ketika di hari Selasa, saya mengikuti kuliah Creativity & Innovation. Seperti biasa. Namun kali ini tidak seperti biasa. Yang mengajar kali ini adalah Budi Rahardjo. Siapakah beliau? pengusaha, dosen, banyak ‘deh’ profesi dia untuk disebutkan. Termasuk salah satunya beliau yang menangani domain .id. Untuk mengikuti sepak terjang kehidupan beliau atau jika ingin mengetahui karya-karyanya, bisa diakses melalui: rahard.wordpress.com atau budi.insan.co.id.

Di awal kuliah dia menyinggung tentang buku yang menurut beliau sangat bagus dan patut dibaca, yaitu “The World Is Flat.” yang ditulis oleh Thomas L. Friedman. Pada kuliah-kuliah CI sebelumnya buku tersebut juga pernah disebut oleh dosen inti CI, Pak Ngger.

Budi Rahardjo sempat mengatakan bahwa dalam era globalisasi sekarang ini, yang terpenting adalah diri sendiri. Karena dalam mengahadapi “the world is flat” adalah positioning diri kita. Mau berada dimana kita? kuatkan posisi kita dengan menjadi kreatif. Dan juga dalam bisnis di era globalisasi kini, kesulitan bukan pada modal materi. Banyak investor yang bersedia memberikan modal. Tapi para investor tidak bisa memberikan kualitas pada sumber daya manusia. Nah, SDM lah yang susah dicari kualitasnya. Oleh karena itu individual yang memposisikan dirinya dengan baik akan melahirkan  kualitas SDM yang bagus pula.

Dalam dunia usaha. Beliau menjelaskan dari sisi saat beliau ingin memulai suatu usaha. Dalam memulai usaha, ya sudah pasti yang menjadi kunci adalah modal. Jangan gunakan uang sendiri sebagai modal. Minta tolong kepada Investor. Kasihan jika Investor tidak dimanfaatkan, mereka tidak laku, uang mereka tidak berputar. Jadi gunakan Investor sebagai pemodal. Namun yang paling mencenangkan, Budi Rahardjo sempat mengatakan “Business Plan tidak terlalu penting!” karena menurut beliau, dalam Business Plan sangat banyak omong kosong, dan nantinya akan bias terhadap kenyataanya, karena pada dasarnya business plan dibuat secantik mungkin mendekati ideal dengan harapan investor tergiur. Daripada itu, Budi Rahardjo mengatakan lebih baik menemui Investor dengan beberapa lembar kertas putih, dan pulpen, kemudian jelaskan bisnis kita sambil mengoret-oret perhitungan di kertas tersebut, lalu tunjukkan kertas tersebut kepada Investor. Agak mustahil memang, tapi itulah yang selalu dia lakukan setiap ingin memulai usahanya.

Budi Rahardjo selalu memulai usahanya seperti itu. Dengan caranya beliau. Karena usahanya pun dia buat karena memang ‘suka-sukanya’ beliau. Beliau sempat bilang “jika ingin bikin usaha, bikin untuk have fun aja, jangan yang malah nyusahin kita.” saya tahu apa yang anda pikirkan dengan kalimat itu, tapi itu yang Budi Rahardjo lakukan, dan terbukti. Berhasil. Beliau ‘always doing business with pleasure’. Saat anda membaca kata-kata “have fun, for pleasure” pasti anda terpikir tentang “have fun sih have fun, kalau gagal gimana?” ya beliau mengatakan, dari 10 perusahaan yang coba beliau ciptakan, 7 gagal! kemudian beliau melanjutkan dengan menjelaskan bahwa beliau menganggap kegagalan adalah pengalaman berharga. Seperti dalam berperang, komandan yang dipilih adalah prajurit yang berpengalaman, yang pernah tertembak. Dengan begitu dia tidak ingin dalam misi berikutnya tertembak lagi, dan dia sudah lebih tahu bagaimana untuk tidak tertembak lagi. Begitu juga dalam bisnis. Seorang investor lebih melihat pengusaha yang lebih berpengalaman, dan pernah gagal, dengan begitu investasinya akan ditangani oleh sang “veteran”.

Kemudian beliau juga menjelaskan bahwa trend bisnis kedepan akan mengarah kepada digital. Memang segala sesuatu yang digital kualitasnya tidak sebagus analog. Hanya saja cost untuk digital lebih murah, dari segi pembuatan hingga penyimpanannya. Oleh karena itu sektor IT sekarang-sekarang ini berlomba-lomba untuk mengejar penjualan yang murah dan ergonomis. Dan perlombaan itu akan memperkuat persaingan. Hingga nantinya trend ‘gratis’ akan menjadi suatu hal yang biasa dalam dunia bisnis digital. Jadi untuk itu dari sekarang untuk memulai suatu bisnis digital harus kuat di sistem cashflownya. Bagaimana caranya agar produk yang dijual bisa gratis, namun perusahaan tetep mendapatkan profit, tidak usah banyak, yang penting konstan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: